30 September 2024
Petani, Pangan dan Masa Depan Bumi
Solok,
(pertaniansolokkota) - Mendengar Pekerjaan Bertani? Pasti, Apa yang pertama
dibayangkan dengan profesi petani? Hampir semua orang setuju jika petani
merupakan mata pencaharian yang tidak diminati oleh anak dan untuk anaknya.
Tidak salah karena memang menjadi petani bagi sebagian orang tidak menjanjikan
hidup yang layak dan tidak bisa mengembangkan karier. Pandangan ini berimbas
pada regenerasi petani saat ini dan masa depan.
Mari
kita mulai dari pertumbuhan penduduk dunia. Tahun 1900, populasi manusia kurang
dari 2 milyar dengan luas daratan 148,9 juta km2 dan yang produktif untuk
pertanian hanya 37% atau 55,1 juta km2. Tahun 2000, penduduk dunia naik menjadi
lebih dari 6 milyar jiwa atau naik lebih dari tiga kali lipat sementara lahan
pertanian tetap 55,1 juta km2. Dapat kita bayangkan 100 tahun berikutnya dan
berikutnya?
Agar
lebih mudah dipahami mari kita lihat Indonesia. Penduduk Indonesia pada Tahun
1930 sebanyak 60,7 juta jiwa dan naik pada Tahun 2020 sebanyak 271,9 juta jiwa
artinya naik 4,48 kali lipat selama 90 Tahun (lebih tinggi dari kenaikan
populasi dunia). Sementara lahan pertanian produktif tetap 700 ribu km2 (0,5%
dari total lahan pertanian di Bumi).
Bumi
kita ukurannya tidak berubah artinya lahan pertanian tetap. Seiiring dengan
pertumbuhan penduduk maka kebutuhan non pertanian semakin meningkat dan
menggerus lahan pertanian utamanya sawah. Tanpa data kita bisa paham,
pertumbuhan meningkat tajam mengikuti deret geometri sementara lahan pertanian
malah berkurang
Sekarang
kita beranjak ke petani, Pemerintah dihadapkan kepada dilema antara
kesejahteraan petani secara normal tanpa intervensi atau memperhatikan semua
rakyat khususnya masyarakat kurang mampu. Produk pangan pokok yang dihasilkan
petani khususnya padi mempunyai harga eceran tertinggi (HET) artinya harga jual
gabah atau beras ditekan harganya dan jika terjadi kenaikan pemerintah akan
intervensi agar tidak terjadi gejolak sosial dan ekonomi.
Kita
semua tahu, keuntungan diperoleh dari harga jual dikurangi biaya produksi.
Dengan menekan harga gabah atau beras berarti keuntungan akan terbatas dan
salah satu cara hanya menurunkan biaya produksi dengan efesiensi. Dari sini
kita dapat merasakan betapa tingginya pengorbanan petani padi agar semua
masyarakat menikmati hasil panen dengan harga terjangkau dan meniadakan prinsip
ekonomi terkait permintaan dan penawaran.
Sampai
di sini kita paham kenapa petani berpenghasilan terbatas, khususnya petani
padi. Tapi tahukan di masa depan ketika penduduk bumi kekurangan bahan pangan
akibat lahan terbatas dan populasi manusia semakin tinggi. Bisa bayangkan Tahun
2100 penduduk bumi 18 milyar sementara lahan pertanian berkurang, belum lagi
ditambah efek perubahan iklim yang mengintai manusia?
Hal
terburuk bisa dibayangkan, orang kaya rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk
pangan yang terbatas, sementara orang miskin berjibaku bahkan rela bertaruh
nyawa hanya untuk urusan perut. Kalau situasi sudah demikian apapun intervensi
ekonomi pemerintah tidak akan berjalan. Akankah Kejayaan Profesi Petani
menunggu kondisi seperti ini?
Apa
yang dilakukan Indonesia? Pemerintah telah menyadari hal di atas, maka
keluarlah Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan yang kemudian diiringi oleh aturan turunannya. Pemerintah
melarang alih fungsi dengan pengecualian yang ketat.
Untuk
meningkatkan lahan produktif pertanian, pemerintah juga mencetak lahan
pertanian baru yang dibungkus dengan food estate yang dilaksanakan di beberapa
tempat termasuk di pulau tempat ibukota baru IKN yaitu di Pulau Kalimantan.
Sementara
untuk regenerasi petani, saat ini pemerintah belum bisa memaksakan anak muda
untuk bekerja sebagai petani. Program yang diluncurkan baru sebatas menaikkan
minat melalui Program Petani Milenial untuk “membujuk” anak muda untuk terjun
ke sector pertanian dengan pendekatan perkembangan teknologi, inovasi dan
kreativitas anak muda.
Bayang-bayang
perubahan iklim juga telah dirasakan pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian
Pertanian sekarang fokus pada Program Pompanisasi untuk produksi padi tidak
terganggu akibat kekurangan air. Petani yang tergabung dalam kelompok tani
dipersilakan untuk mengusulkan bantuan pompa dan pipa penyalurnya bagi yang
lahannnya terdampak kekeringan akibat kekurangan air karena kemarau.
Peningkatan
suhu bumi juga menghantui sebagian wilayah di Asia. Beberapa negara melaporkan
rekor suhu tinggi. Walau di Indonesia tidak merasakan dampak ekstrem namun
beberapa bulan lalu sempat merasakan peningkatan suhu di beberapa wilayah.
Yang paling ekstrem, Apakah
Bumi akan bernasib seperti Venus yang sekarang menjadi planet terpanas di Tata
Surya? Konon dahulu kala terdapat bukti bekas kehidupan yang mirip di Bumi yang
berakhir akibat peningkatan suhu di planet yang terkenal dengan “bintang fajar”
tersebut (fa).
51 kali dilihat