Upaya Mempertahankan Hasil Panen dengan Pengendalian Hama dan Penyakit Padi

Upaya Mempertahankan Hasil Panen dengan Pengendalian Hama dan Penyakit Padi

Solok (dispertasolok). Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tanaman pangan khususnya tanaman padi sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah dalam meningkatkan produksi, karena menyebabkan kehilangan dan menurunkan kualitas hasil serta berpengaruh terhadap pencapaian sasaran produksi padi di Provinsi Sumatatera Barat.

Di Sumatera Barat OPT utama yang menyerang tanaman padi adalah Tikus, Wereng Coklat, Penggerek Batang, Blast dan Tungro. Demikian disampaikan oleh Erita selaku nara sumber pada Sekolah Lapang Padi Tanam Terpadu (SLPTT) Pertemuan Keempat pada tanggal 25 September 2019 di Kelompok Tani Bungo Padi Kelurahan Nan Balimo Kota Solok.

Sekolah lapang antusias diikuti oleh 28 orang peserta dari Kelompok Tani Bungo Padi, padahal target peserta hanya 25 orang. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Seksi Penerapan Teknologi, Fathoni Abdillah, Koordinator Penyuluh Kota Solok, Nazifah, Koordinator Penyuluh Kecamatan Tanjung Harapan, Siska Novita dan Ricky dari Bidang Penyuluhan.

Nara sumber yang merupakan Fungsional Pengamat Hama Penyakit Tanaman Ahli Madya dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sumatera Barat ini menjelaskan faktor yang mempengaruhi populasi tikus di lapangan adalah ketersedian makanan, Habitat atau tempat tinggal, musuh alami seperti ular dan kucing, cuaca/iklim, reproduksi dan persaingan.

Ir. Erita dari BPTPH menyampaikan materi SLPTT

“Tikus dapat hidup lebih kurang 1 tahun, seekor tikus dapat melahirkan 4-5 kali/thn, rata-rata anakan 6 ekor per kelahiran dengan sex rasio 1:1, Tikus betina bunting 3-4 minggu, 2 hari setelah melahirkan betina siap kawin lagi, lama menyusui anak tikus 18-24 hari, anak tikus keluar sarang umur 28 hari dan siap kawin dan dewasa kelamin tikus pada 2-3 bulan setelah lahir” Papar nara sumber asal Bonjol, Kabupaten Pasaman ini menerangkan perkembangbiakan tikus.

Selain mengupas hama padi, nara sumber juga memaparkan seputar penyakit, diantaranya blast. “Faktor yang mendorong perkembangan blast adalah iklim basah seperti curah hujan tinggi dan kabut, pupuk nitrogen berlebihan dan varietas yang peka”

“Penyakit Blast menyerang padi mulai persemaian sampai dengan panen, gejala serangan pada daun berbentuk bercak oval atau elips dan kedua ujung-ujungnya mirip belah ketupat berwarna keabu-abuan, daun yang terserang berat akan mengering, selain menyerang daun blast juga menyerang buku batang dan leher malai yang dapat mengakibatkan buah hampa serta malai mudah patah (patah kuduak) dan buah padi juga dapat terserang menyebabkan bercak coklat kehitaman” urai Erita yang berkantor di Kompleks Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat di Bandar Buat.

Pengendalian OPT Padi berpedoman pada Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT yaitu suatu upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang di kembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.

Peserta SLPTT Melakukan Pengamatan

Sebelum penyampaikan materi oleh nara sumber, peserta yang dibagi dalam lima kelompok melakukan pengamatan tanaman padi mulai pukul 7 pagi. Hasil pangamatan dipaparkan oleh setiap kelompok dan ditanggapi oleh kelompok yang lain. Kegiatan pengamatan dan pemaparan kelompok dipandu dan dibimbing oleh Nazifah dan Siska Nofita selaku penyuluh pertanian (fa).

Leave a Reply

Close Menu