Sejahterakan Petani dengan Penanganan Panen dan Pasca Panen yang Tepat

Sejahterakan Petani dengan Penanganan Panen dan Pasca Panen yang Tepat

Solok (infopubliksolok), Efiensi usaha tani selama ini kurang diperhatikan oleh petani. Penyebabnya disebabkan oleh tidak adanya pencatatan pengeluaran untuk biaya produksi baik biaya langsung maupun biaya tak langsung. Petani maju akan selalu melakukan pencatatan usaha tani sehingga akan tergambar dari pencatatan tersebut kelayakan usaha mereka.

Selain itu, selama ini petani kurang memperhatikan potensi kehilangan dari penanganan panen dan pasca panen yang tidak tepat. Hasil penelitian menyatakan potensi kehilangan dari penanganan panen mencapai 9,5% dan dari penanganan pasca panen mencapai 10.5%. Dengan demikian jika asumsi hasil panen 6 ton/Ha dan harga gabah kering panen Rp. 9.000/kg maka potensi kehilangan pendapatan petani mencapai Rp. 9000,- x 6.000 kg x 20% = Rp. 10.800.000,- per ha.

Demikian disampaikan oleh Kasma Iswari, Peneliti Utama dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat pada tanggal 20 November 2019 bertempat di Rumah Anggota Kelompok Tani Bungo Padi Kelurahan Nan Balimo pada acara Sekolah Lapang Padi Tanam Terpadu pertemuan yang ke VI.

Hadir dalam kesempatan yang diikuti oleh 33 orang peserta yaitu Kepala Seksi Penerapan Teknologi Dinas Pertanian Kota Solok, Fathoni Abdillah, Koordinator Penyuluh Pertanian Kota Solok, Nazifah dan Penyuluh Wilayah Kelurahan Nan Balimo, Nike Irawati.

Pada sambutan, Kepala Seksi Penerapan Teknologi menyampaikan agar ilmu yang didapat dari nara sumber ini dapat diaplikasikan pada usaha taninya. Agar pengaplikasiannya tidak salah maka peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik sampai selesai.

Sementara itu dalam materinya, nara sumber yang biasa dipanggil Buk Is menyatakan Penanganan pasca panen padi meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu penentuan saat panen, pemanenan, pengumpulan padi di tempat perontokan, perontokan, pengangkutan gabah ke rumah petani/penggilingan pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras.

Ir. Kasma Iswari sedang menyampaikan materi sekolah lapang (foto: Ricky)

“Penanganan panen yang berpotensi menyebabkan kehilangan hasil karena sistem panen secara trasional, yaitu ketika penyabitan dengan sabit, perontokan dengan “tong” dan pengangkutan dari lokasi penyabitan ke lokasi perontokan” Tutur nara sumber asal Kabupaten Pesisir Selatan ini.

“Kehilangan hasil atau yang biasa disebut losses dapat diminimalkan dengan mekanisasi pertanian, baik dengan alat ataupun mesin. Mesin Reaper atau Paddy Mower dapat membantu pada saat penyabitan, Alat atau mesin Thresher pada saat perontokan dan Mesin Terpadu Combine Harvester yang dapat membantu mulai penyabitan hingga pengipasan sampai disimpan ke dalam karung dengan satu alat” sambung peneliti senior di BPTP Sumbar ini.

Selanjutnya sekolah lapang dilanjutkan pada pertemuan ke VII pada saat panen yang diperkirakan dilaksanakan pada tanggal 30 November 2019 (fa).

Leave a Reply

Close Menu