Petani Sinapa Piliang Ikuti Bimbingan Pemupukan Tanaman Padi

Petani Sinapa Piliang Ikuti Bimbingan Pemupukan Tanaman Padi

Solok (dispertasolok). Salah satu komponen penting budidaya padi adalah pemupukan. Setelah dikenalkan pada era Tahun 1970an, pemakaian pupuk an organik meningkat dari tahun ke tahun. Dari awal dikenalkan, petani kurang tertarik menggunakan pupuk Urea, TSP, KCl, NPK maupun ZA. Namun seiring waktu, penggunaannya meningkat tajam karena tanah menjadi “kecanduan” dan bila tanaman tidak dipupuk maka hasil yang dicapai akan mengecewakan, bahkan bisa menyebabkan gagal panen.

Untuk melatih petani agar menggunakan pupuk sesuai dosis yang dibutuhkan tanaman maka dilakukan sekolah lapang pertemuan pertama pada tanggal 5 September 2019 di Kelompok tani Panca Usaha yang bertempat di Kantor Lurah Sinapa Piliang. Bertindak sebagai Nara Sumber Ahmad Syufri dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.

Sekolah lapang dibuka oleh Kepala Bidang Penyuluhan, Zeldi Efiza dan dihadiri oleh Kepala Seksi Penerapan Teknologi, Fathoni Abdillah, Koordinator Penyuluh Kota, Nazifah, Koordinator Penyuluh Kecamatan Lubuk Sikarah yang sekaligus penyuluh Kelurahan Sinapa Piliang, Rahmad Yendi dan Ahli Tanah Dinas Pertanian Kota Solok, Ricky.

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Bidang Penyuluhan menyampaikan pentingnya memahami materi sekolah lapang bagi peserta sekolah lapang. “Peserta sekolah lapang harus memahami materi yang disampaikan nara sumber agar peserta dapat menerapkan teknologi yang disampaikan dengan benar. Apabila tidak memahami materi dikuatirkan petani akan salah penerapan sehingga hasil panen menjadi turun dan pada akhirnya menyalahkan teknologi tersebut. Untuk itu ikuti sekolah lapang ini dengan baik dan serius hingga selesai dan jika ada yang ragu diharapkan berdiskusi dengan nara sumber” jelas Kepala Bidang Penyuluhan.

Sementara itu Ahmad Syufri menjelaskan bahwa BPTP Sumatera Barat telah mengeluarkan rekomendasi pemupukan yang berimbang. Untuk hambaran sawah di Kelurahan Sinapa Piliang rekomendasi dari BPTP Sumatera Barat per hektar adalah Urea 50 kg, SP36 50 kg dan KCl 50 kg.

Ahmad Syufri yang merupakan penyuluh senior di BPTP Sumatera Barat menjelaskan tentang penggunaan pupuk hayati. “Pupuk hayati adalah pupuk berbasis mikroba non-patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (zat pemacu tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah” jelasnya.

“Pupuk hayati ini mengandung bakteri filosfer Methylobacterium sp., penghasil fitohormon pematahan dormansi meningkatkan vigor dan viabilitas benih dan mengandung bakteri penambat nitrogen simbiotik” terang penyuluh madya yang telah bergelar master ini.

Sekolah lapang ditutup oleh Kepala Bidang Penyuluhan dan selanjutnya akan dilanjutkan dengan materi pertanaman jajar legowo jika petani akan melakukan pertanaman yang diperkirakan pada minggu ketiga September (fa).

Leave a Reply

Close Menu