Petani Nan Balimo Antusias Ikuti Cara Pengendalian Hama dan Penyakit

Solok (dispertasolok). Kota Solok terkenal dengan sebutan Kota Beras, dimana salah satu komoditas utama yang diusakan petani adalah tanaman padi. Permintaan masyarakat akan Beras Solok ini cukup tinggi, baik dari dalam kota Solok sendiri maupun luar Kota Solok. Untuk mencukupi permintaan tersebut, produksi beras di Kota Solok haruslah melebihi kebutuhan masyarakat Kota Solok atau dengan kata lain Produktivitas Padi di Kota Solok harus tinggi. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi produktivitas tanaman padi ini adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui UPTD BPTPH Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Pelatihan Singkat Petani tentang Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada 18 kelompoktani di Sumatera Barat dengan biaya dari APBD Provinsi Sumatera Barat. Kelompoktani di Kota Solok yang difasilitasi dengan kegiatan ini adalah kelompoktani Harapan jaya kelurahan Nan Balimo dan Kelompoktani Panca Usaha Kelurahan Sinapa Piliang. Pelathan Singkat Petani ini serentak di dua kelompoktani pada tanggal 9 September 2020 di masing-masing lokasi kelompoktani.

Pelatihan Singkat Petani tentang Pengendalian OPT Tanaman Padi di Kelompoktani Harapan Jaya diselenggarakan di Pondok Pertemuan Kelompoktani Harapan Jaya yang dihadiri oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kota Solok Zeldi Efiza, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Tanjung Harapan Siska Nofita dan Penyuluh Pertanian Kelurahan Nan balimo Nike Irawati. Kegiatan ini memfasilitasi 20 anggota kelompoktani, namun karena antusias dan semangat dari anggota kelompoktani pelatihan diikuti oleh 34 orang petani.

Materi Pelatihan disampaikan oleh dua orang Narasumber yaitu Editya Murphi dan Mustafa dari UPTD BPTPH Sumatera Barat. Mustafa menjelaskan perbedaan antara Hama, Penyakit dan Gulma. Hama merupakan pengganggu tanaman berupa hewan yang dapat dilihat secara langsung oleh petani seperti tikus, burung dan kepinding tanah, penyakit merupakan OPT yang tidak dapat dilihat secara langsung tapi hanya dapat dilihat dari gejala serangan yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus seperti blast dan kresek, sedangkan gulma adalah tanaman yang mengganggu tanaman yang dibudidayakan oleh petani.

“Pengendalian OPT perlu diterapkan Konsep PHT yang terdiri dari Budidaya Tanaman Sehat, Pemberdayaan Musuh Alami, Pengamatan dan Petani Ahli. Dalam budidaya tanaman sehat maka perlu diterapkan pemakain bibit unggul dan sehat, pemupukan berimbang, dan pengolahan tanah sempurna. Dalam pemberdayaan Musuh Alami, pemakaian pestisida kimia tidak boleh sembarangan, karena pestisida tidak hanya akan membunuh hama namun juga akan membunuh musuh alami yang akan memangsa hama tersebut” papar Mustafa.

Lebih lanjut nara sumber dari BPTPH Sumbar ini menerangkan petani perlu membangun Rumah Singgah Musuh Alami (RSMA) dengan cara menanam tanaman bunga berwarna disekitar lahan sawah.  Pengamatan ditujukan untuk mengamati pertumbuhan tanaman dan perkembangan OPT dan Musuh Alami di lahan pertanian. Petani Ahli yang dimaksud adalahahli dalam pengendalian OPT pada tanaman pertanian mereka.

Sedangkan Editya Murphi yang merupakan Koordinator POPT Kabupaten dan Kota Solok ini menerangkan beberapa OPT pada tanaman Padi diantaranya Hama Tikus, Kepinding Tanah, Penyakit Kresek atau Hawar Daun Bakteri dan Blast. “Keempat OPT tersebut merupakan OPT yang sering dan sedang menyerang tanaman padi di beberapa Kelurahan di Kecamatan Tanjung Harapan khususnya di Kelurahan Nan Balimo” lanjut pria yang akrab dipanggil Murphi.

Hama Tikus merupakan hewan pengerat yang suka bersarang di tempat-tempat yang kotor dan tidak bersih seperti pematang sawah, munggu tanah dan saluran irigasi. Hama ini bersarang dengan membuat liang atau lubang yang bisa mencapai puluhan meter. Liang aktif ditandai dengan adanya jejak-jejak kaki dan kotoran tikus disekitar liang dan jalan masuk liang tersebut bersih. Editya mengatakan bahwa 1 pasang tikus dalam satu tahun dapat berkembang menjadi 2.046 ekor jika makanannya tersedia. Adapun langkah-langkah pengendalian hama tikus diantaranya adalah sanitasi lingkungan, tanam serentak, umpan beracun seperti petrokum dan klerat yang bersifat anti koogulan.

Editya selanjutnya menjelaskan tentang Kepinding Tanah, Blast dan Kresek. Kepinding Tanah memiliki bau yang busuk, hidup pada rumpun padi, menghisap cairan pada tanaman padi, bertelur di sela-sela pelepah padi dengan siklus hidup kepinding dewasa – telur – nimpha – kepinding dewasa. Adapun langkah pengendaliannya sama dengan hama tikus yakni perlu dilakukan sanitasi lingkungan sawah.

Penyakit Blast dijelaskan oleh Editya bahwa penyakit ini berkembang pesat pada musim hujan, banyak menyerang tanaman yang rentan seperti cisokan dan anak daro, serta tanaman yang kelebihan Urea. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sanitasi lingkungan, pemakaian pupuk berimbang, dan pemakaian pestisida.

Penyakit yang juga menyerang tanaman padi di kelurahan Nan Balimo adalah Penyakit Kresek atau Hawar daun bakteri dengan gejala daun menguning dari tepi daun dan pangkal dau melapuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan Abu.

Kegiatan Pelatihan ini diakhiri dengan diskusi peserta dan narasumber, diharapkan pelatihan ini dapat bermanfaat bagi petani dan kelompoktani Harapan jaya. Diharapkan petani nantinya menjadi petani ahli dalam pengendalian OPT pada tanaman Padi yang diusakannya (sn).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *