Peneliti Balitbu-Tropika Latih Penyuluh Pemanfaatan Serai Wangi sebagai Pestisida

Solok (dispertasolok), Hama dan penyakit tanaman menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak maksimal. Biasanya penyebab suatu tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal disebabkan karena hama dan penyakit yang menyerang dan mengganggu sistem di dalam tanaman.

Ada berbagai macam hama dan penyakit tanaman yang menjadi momok bagi para petani atau peladang. Akibatnya, mereka mengalami kerugian besar karena masalah hama dan penyakit tanaman yang menyerang perkebunan atau pertanian mereka.

Petani terus berfikir bagaimana cara mengendalikan tanaman dari gangguan hama dan penyakit. Tidak sedikit para petani masih tergantung kepada pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Pada tanggal 22 September 2020 dilaksanakan Demonstrasi Cara Pembuatan Pestisida Nabati dari minyak atsiri tanaman serai wangi oleh Balitbu-Tropika kepada Para Penyuluh Pertanian se-Kecamatan Lubuk Sikarah yang berjumlah 6 orang di Lahan BPP Kecamatan Lubuk Sikarah.

Mizu Istianto, selaku anggota Tim Supervisi Kostratani dari Balitbu Tropika menganggap tanaman serai wangi sangat cocok untuk dijadikan pestisida nabati. Karena minyak atsiri serai wangi kini sudah menjadi Komoditi Andalan Kota Solok.

“Bahan yang diperlukan dalam pembuatan pestisida nabati ini yaitu minyak atsiri murni, zat perata atau perekat (SPB-220) dan air. Cara pembuatannya yaitu campurkan dulu zat perata dengan sedikit air kedalam ember atau botol kemasanan air mineral yang bersih dengan dosis 30 cc zat perata (SPB-220) lalu diaduk atau dikocok. Setelah tercampur, masukkan minyak atsiri dengan dosis 22.5 cc atau 1.5 cc/ liter  air dan dikocok atau diaduk kembali sampai rata dan berwarna putih susu.  Baru larutan tadi dapat dicampur dengan air sebanyak 15 Liter air (kapasitas handsprayer 15 liter) kedalam handsprayer” terang Peneliti senior di Balitbu-Tropika tersebut.

Mizu menambahkan untuk pengaplikasiannya, pestisida nabati ini harus disemprotkan secara cepat dan merata. Pestisida nabati ini sangat berguna sebagai penolak serangga serangga penggaggu tanaman contohnya kutu putih pada tanaman papaya dan kakao. Karena sifat pestisida nabati ini yang hanya sebagai penolak bagi hama maka penyemprotan harus lebih sering dilakukan minimal satu minggu satu kali.

“Selain sebagai pestisida nabati  bagi hama pengganggu tanaman, minyak atsiri serai wangi dapat pula dijadikan sebagai salah satu cara pengendalian hama berang- berang yang merupakan  musuh alami petani yang melakukan minapadi.  Pasalnya, ancaman hewan berang-berang ini masih sulit ditanggulangi hingga saat ini. Meski petani sudah berupaya membuat jaring penutup serta menjaga hingga malam hari, namun hama ikan tersebut masih bisa masuk ke persawahan” ungkap Mizu.

Mizu memaparkan cara pemakaian pestisida nabati tersebut untuk pengendalian OPT dengan meneteskan minyak atsiri sebanyak 3 tetes ke kapas atau tisu, lalu gantungkan kapas tersebut di sekitar areal persawahan minapadi dengan jarak minimal 5 meter. Kapas tersebut sebelumnya harus diberi pelindung agar minyak yang ada tidak menguap dan tidak terkena hujan. Diharapkan karena bau yang dihasilkan dari minyak atsiri ini dapat menolak berang-berang (ly).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *