Antisipasi Flu Burung, Dinas Pertanian Lakukan Desinfeksi Pasar Unggas

Antisipasi Flu Burung, Dinas Pertanian Lakukan Desinfeksi Pasar Unggas

Solok (dispertasolok). Dalam upaya mencegah timbulnya kejadian Flu Burung (AI) dimana Kota Solok telah bebas dari penyakit ini sejak tahun 2012 dilaksanakanlah surveillance atau pemantauan secara berkala. Surveilance harus tetap dilakukan karena penyakit ini dapat timbul kapan saja, terutama ketika lingkungan sekitar kita dalam keadaan kotor dan lembab. Salah satu upaya pencegahan yaitu dengan melakukan Desinfeksi Pasar Unggas (Ayam Potong) di Pasar Raya Kota Solok.

Kegiatan Desinfeksi Pasar Unggas Kota Solok ini dilakukan pada tanggal 25 September 2019 pukul 20.00 sampai pukul 23.00. Kegiatan ini digawangi oleh UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Kota Solok. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Dinas Pertanian, Bidang Sarana dan Pengelolaan Pasar dan Bidang Pemadaman Kebakaran Kota Solok.

Turut dalam kegiatan ini adalah Kepala Bidang Peternakan, Perikanan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Solok, Ade Kurniati S.Pt, Kepala Bidang Sarana dan Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan dan KUKM, Agus Zainir, SP., Kepala UPTD Puskeswan, drh. Denny Susanti dan beberapa staf dari UPTD Puskeswan serta 1 Regu Damkar.

Tim Melakukan Desinfeksi

“Kegiatan ini biasanya dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan penilaian Adipura. Tahun ini karena penilaian adipura tidak dipublikasi maka kegiatan ini perlu dirutinkan” Tutur Ade.

Kepala bidang termuda di Dinas Pertanian Kota Solok ini menambahkan bahwa Unggas (Ayam, Itik, Burung) dan Pasar Unggas merupakan salah satu titik pusat pencemaran dan mempunyai resiko menjadi tempat munculnya kasus Flu Burung, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara berkala. Desinfeksi merupakan salah satu upaya pengendalian disamping pengawasan lalu lintas unggas yang masuk ke Pasar Unggas Kota Solok.

Kegiatan desinfeksi pasar unggas ini menggunakan mobil pemadam kebakaran dimana sebelumnya air sudah ditambahkan dengan larutan desinfektan dan disemprotkan secara merata ke seluruh bangunan dan peralatan jual-beli unggas.

Seperti kita ketahui, Flu Burung pada manusia berawal dari Hongkong pada Tahun 1997 dan terkonfirmasi di Indonesia pada Tahun 2003. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sejumlah kasus flu burung pada manusia. Manusia dapat terinfeksi flu burung (influenza A virus) subtipe H5N1, H7N9, dan H9N2.

H5N1 awalnya merupakan penyakit secara alami di unggas air liar, namun kemudian menyebar ke unggas domestik. Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia melalui kontak dengan kotoran burung yang terinfeksi, sekresi hidung, atau sekresi dari mulut maupun mata. Mengkonsumsi daging dan telur yang dimasak dengan benar dari unggas yang terinfeksi tidak menularkan penyakit ini, tetapi telur tidak boleh disajikan dalam keadaan berair.

Seperti pada kebanyakan penyakit virus lainnya, H5N1 juga memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam waktu yang lama. Unggas yang terinfeksi H5N1 secara rutin melepaskan virus dalam feses dan air liur selama 10 hari. Menyentuh permukaan yang terkontaminasi dapat menyebarkan infeksi. Dengan demikian diperlukan surveilance secara rutin pada tempat yang memiliki potensi menjadi awal munculnya flu burung (ea).

Leave a Reply

Close Menu