Antisipasi Flu Burung, Dinas Pertanian Lakukan Desinfeksi Pasar Unggas Kota Solok

Solok (dispertasolok), Salah satu upaya untuk mencegah timbulnya kasus Flu Burung dapat dilakukan upaya sanitasi lokasi pasar ayam yang mempunyai resiko besar dalam penularan Virus Avian Influenza (AI). Untuk itu Dinas Pertanian telah melakukan kegiatan Desinfeksi Pasar Ayam di Pasar Raya Solok. Selama ini Kota Solok telah bebas dari kasus penyakit Flu Burung, dimana semenjak tahun 2012 telah dilaksanakanlah surveillance atau pemantauan secara berkala. Surveilance harus tetap dilakukan karena penyakit ini dapat timbul kapan saja, terutama ketika lingkungan sekitar kita dalam keadaan kotor dan lembab.

Kegiatan Desinfeksi Pasar Unggas Kota Solok ini dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2020 pukul 20.00 sampai pukul 23.00. Kegiatan ini dilaksanakan oleh UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Kota Solok berkerjasama dengan Bidang Pengelolaan Pasar dan Bidang Pemadaman Kebakaran Kota Solok.

Turut dalam kegiatan ini adalah Sekretaris Dinas Pertanian Kota Solok, Refendi, Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan, Kesmavet dan Perikanan Dinas Pertanian Kota Solok, Ade Kurniati, Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan dan KUKM, Asrul, Kepala UPTD Puskeswan, Denny Susanti dan beberapa staf dari UPTD Puskeswan serta 1 Regu Damkar.

Ade menuturkan bahwa kegiatan ini biasanya dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan penilaian Adipura. Tahun ini karena penilaian adipura tidak dipublikasi maka kegiatan ini perlu dirutinkan untuk mencegah terjadinya kasus Flu Burung (AI) di Kota Solok.

Kepala bidang termuda di Dinas Pertanian Kota Solok ini menambahkan bahwa Unggas (Ayam, Itik, Burung) dan Pasar Unggas merupakan salah satu titik pusat pencemaran dan mempunyai resiko menjadi tempat munculnya kasus Flu Burung, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara berkala. Desinfeksi merupakan salah satu upaya pengendalian disamping pengawasan lalu lintas unggas yang masuk ke Pasar Unggas Kota Solok.

Kegiatan desinfeksi pasar unggas dilakukan dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran, dimana sebelumnya air sudah ditambahkan dengan larutan desinfektan dan disemprotkan secara merata ke seluruh kandang dan peralatan jual-beli unggas.

Seperti kita ketahui, Flu Burung pada manusia berawal dari Hongkong pada Tahun 1997 dan terkonfirmasi di Indonesia pada Tahun 2003. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sejumlah kasus flu burung pada manusia. Manusia dapat terinfeksi flu burung (influenza A virus) subtipe H5N1, H7N9, dan H9N2.

H5N1 awalnya merupakan penyakit secara alami di unggas air liar, namun kemudian menyebar ke unggas domestik. Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia melalui kontak dengan kotoran burung yang terinfeksi, sekresi hidung, atau sekresi dari mulut maupun mata. Mengkonsumsi daging dan telur yang dimasak dengan benar dari unggas yang terinfeksi tidak menularkan penyakit ini.

Seperti pada kebanyakan penyakit virus lainnya, H5N1 juga memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam waktu yang lama. Unggas yang terinfeksi H5N1 secara rutin melepaskan virus dalam feses dan air liur selama 10 hari. Menyentuh permukaan yang terkontaminasi dapat menyebarkan infeksi. Dengan demikian diperlukan surveilance secara rutin pada tempat yang memiliki potensi menjadi awal munculnya flu burung (zy).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *