Komitmen Ketua Gapoktan dan Manajer LKMA pada Koordinasi LKMA di Kota Solok

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) telah diluncurkan sejak lama untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Program ini diimplementasikan dalam bentuk bantuan dana usaha pertanian untuk petani melalui gapoktan. Gapoktan diharuskan membentuk Lembaga Kredit Mikro Agribisnis (LKMA) untuk menjalankan dana dari pusat tersebut.

Dana PUAP digulirkan di Kota Solok sejak tahun 2012 untuk 2 gapoktan dan dilanjutkan pada tahun 2013 untuk 7 gapoktan. Terakhir tahun lalu, pemerintah menggulirkan dana  PUAP ini untuk satu gapoktan yaitu Gapoktan Empat Sepakat Kampung Jawa. Kota Solok sekarang telah mendapat dana PUAP untuk 10 gapoktan.

Untuk menghindari permasalahan yang mungkin timbul maka pada tanggal 26 Agustus 2016 diselenggarakan Rapat Koordinasi untuk para pengurus LKMA-PUAP dan Ketua Gapoktan. Hadir dalam rapat tersebut seluruh Manajer LKMA-PUAP  dan seluruh Gapoktan di Kota Solok.

Dalam rapat koordinasi tersebut juga dibahas langkah-langkah untuk registrasi LKMA-PUAP, sehingga kelembagaannya diharapkan semakin kuat (2:2).

Penerapan Pertanian Terpadu di Kota Solok

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan petani. Salah satu yang diupayakan adalah penerapan pertanian terpadu. Petani tidak bisa menggantungkan penghasilannya pada satu komoditas saja. Dengan mengusahakan banyak komoditi, petani memiliki alternatif penghasilan jika satu komoditas mengalami gagal usaha. Pertanian terpadu juga memungkinkan petani menambah penghasilan dari berbagai komoditas yang diusahakan.

Salah satu pertanian terpadu yang mungkin dilakukan adalah padi, ikan dan sapi. Petani dapat melakukan budidaya padi bersama dengan budidaya ikan dengan sistem minapadi. Sistem minapadi tidak membolehkan pemakaian pupuk an organik berlebihan dan pestisida. Untuk menambah kesuburan tanah petani dapat memperolehnya dari kotoran sapi. Jerami hasil panen padi dapat diolah menjadi pakan sapi. Dengan mengusahakan tiga komoditas tersebut, paling tidak ada beberapa penghasilan yang diperoleh, yaitu: padi, ikan, bio gas dan sapi. Sedangkan efesiensi yang mungkin dilakukan adalah pupuk an organik yang diganti dengan pupuk organik dari kotoran sapi.

Pertanian Terpadu itulah yang dijadikan tema oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Solok dalam Pawai alegoris yang digelar Pemerintah Kota Solok pada tanggal 18 Agustus 2016. Pawai dikuti oleh seluruh SKPD, kelurahan, kecamatan dan masyarakat (3:2).

Kota Solok Serius Menerapkan Teknologi untuk Peningkatan Produksi Pertanian

Penerapan teknologi dalam usaha pertanian sangat penting, disamping efesiensi dan efektivitas biaya produksi. Petani padi sawah sangat merasakan pentingnya efesiensi dan efektivitas ini. Pemerintah mengusahakan harga beras tidak tinggi agar semua masyarakat bisa membeli beras dan tidak kekurangan pangan. Dengan demikian yang bisa diusahakan petani adalah menurunkan biaya produksi yang salah satunya dengan penggunaan teknologi.

Untuk itu, pada tanggal 10 Agustus 2016, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Solok bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat melakukan uji coba mesin Combine Harvester, yaitu mesin untuk memanen padi. Uji coba dilakukan di hamparan sawah Kelompok Tani Sawah Solok di Kelurahan IX Korong Kota Solok. Pemakaian  Combine Harvester ini dapat menekan kehilangan gabah akibat panen dengan sabit dan saat mengangkut ketempat perontokan. Dengan  Combine Harvester dapat sekaligus dilakukan pemotongan padi dan perontokan sehingga padi tidak berserakan. Disamping itu jam kerja juga lebih cepat sehingga biaya yang dikeluarkan lebih sedikit, denga kata lain biaya produksi dapat ditekan.

Uji coba tersebut dihadiri oleh perwakilan seluruh kelompok tani yang ada di Kota Solok dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Solok, Jefrizal, S.Pt., M.T. dan perwakilan dari BPTP Sumatera Barat.

Pada hari yang sama juga dilakukan uji coba Mini Traktor yang bertempat di Areal Lahan Kering Kelompok Tani Puncak Kandih Kelurahan Laing. Rencananya lahan yang dijadikan uji coba ini akan ditanami ubi kayu. Hadir dalam uji coba ini Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ir. Yubidarlis dan Kepala Seksi Produksi Perkebunan dan Kehutanan, Joni Harnedi, SP. (2:2).